Dalam dunia kerja penting sekali karyawan memiliki soft skill yaitu kemampuan dalam menyikapi sebuah masalah, beradaptasi, bersikap/berperilaku, berkomunikasi, kepemimpinan dan sebagainya. apa yang membedakan, jadi Performa kita dalam pekerjaan hanya dipandang sebagai ‘tugas’. Sementara sebuah ‘tugas’ itu bisa dikerjakan ribuan orang lain, soft skill-lah yang membedakan kita dengan mereka dan bisa membawa kita ke tingkat yang lebih tinggi, Lindsey Pollak (penulis buku “Becoming the Boss).

Semua orang tau itu. Sementara masih banyak yang tidak terlalu memperhatikan pentingnya soft skill. Diantaranya soft skill tersebut adalah.

  1. Confidence : percaya diri. Bagaimana seorang karyawan/pekerja mampu menunjukkan keberaniannya dalam berbicara didepan umum, bersikap kesatria bertanggung jawab atas tugas yang diberikan atasan.
  2. Time management : yaitu seni mengolah pekerjaan sesuai waktu yang dibutuhkan, efisiensi pengerjaan, tidak menyianyiakan waktu untuk segera menyelesaikan pekerjaan.
  3. Self Management Skill :kemampuan menganalisa diri sendiri, kekuatannya sejauhmana bisa dimaksimalkan, kelemahannya bisa berdampak buruk kemudian diciptakan solusi penanganannya. Intinya bisa mengendalikan diri supaya tercapai tujuan.
  4. Friendliness and manners : etika (keramahan dan tata karma) di dalam soft skill sangat dominan, karena kebanyakan rate pemuda produktif yang usianya kisaran 19-30 th sangat sulit mengendalikan emosionalnya. Makanya perlu pengalaman dan belajar bersikap dan bertutur yang baik. Perilaku tidak baik bisa menghancurkan pondasi hubungan dengan orang lain. Di dalam bisnis bisa mengakibatkan ketidakpercayaan yang muaranya mengalami kerugian.
  5. Ambition atau ambisi : tanpa dorongan yang kuat dari akal dan hati, kapan kita mengetahui batasan kemampuan yang sesungguhnya.
  6. Focus : berjalan lurus memegang teguh prinsip kesuksesan yang sedang dilakukan, jangan terpengaruh, jadilah pengaruh.
  7. Common Sense : spekulasi bisnis, mengatur pengeluaran, menganalisa segala kemungkinan-kemungkinan mesti melibatkan akal yang sehat. Tergesa-gesa seringkali merepotkan proses, hati-hati.
  8. Situational Awareness : menyadari situasi, misal sedang merebaknya virus corona sebagai perusahaan, pribadi harus peka berkontribusi mengikuti himbauan pemerintah dan membantu sesamanya.
  9. Enthusiasm dan Optimism : antusias menghadapi tantangan, dan mendengarkan team . optimis bahwa tidak ada yang gagal, yang ada adalah tertundanya kesuksesan.
  10. Empathy : ikut merasakan kondisi (support) team saat mengalami kesulitan.

Sekali lagi Soft skill adalah artribut personal (kepribadian), yang terlihat dari bagaimana cara kita berinteraksi dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Sering kita menemukan ada yang etika/attitude-nya buruk, cara berkomunikasi dan tanggung jawabnya tidak baik, kemampuan problem-solving dan self-motivation rendah, dan tidak sanggup bekerja under pressure. Jika Hard skill bisa kita peroleh dari edukasi formal di sekolah dan kampus, juga dalam program pelatihan, magang, workshop, dan sebagainya. Hard skill bisa dievaluasi, dipelajari dan diukur langsung. Maka softskill perlu proses yang alamiah, bertahap dan memperhatikan kepribadian masing-masing.

 

Mohammad Iqbal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *